Senin, 16 April 2012

cinta tiada akhir

Uwi melirik jam beker di meja belajarnya. Waktu menunjukkan jam 12 malam. Gadis manis itu mematikan laptopnya dan berbaring di tempat tidur dengan mata setengah terpejam. Yah.....entah sudah berapa jam ia di depan laptop. Entah sudah berapa lama ia melakukan kegiatan seperti ini. Bahkan ia sendiri saja sudah lupa. Yang ia tahu sekarang adalah ketika jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB adalah waktunya Uwi menjelajahi dunia maya.
Hihihihiii....dalam hati Uwi tertawa kecil mengingat betapa ia amat sangat gila internet. Dan belakangan ini ia sedang dekat dengan seorang cowo yang dikenalnya di situs jejaring sosial yang saat ini sedang populer di Indonesia. Yah......siapa yang gak kenal facebook!!!????
Begitupun Uwi...gadis ini tengah gencar chatting di dunia maya dengan seorang pemuda bernama Rido. Rido gak ganteng, tapi entah kenapa Uwi senang chatting dengannya. Tapi.......senyum Uwi tiba-tiba hilang ketika ia teringat satu hal....
Bagaimana kalau Rido tahu yang sebenarnya??
Apa alasan yang harus dilontarkan Uwi lagi ketika Rido mengajaknya bertemu??
Oh Tuhan.........ternyata Uwi telah jauh masuk ke dalam permainan ini. Dan sebenarnya ia tak ingin mengakhirinya. Karena ia suka pada Rido, pemuda yang baru dikenalnya di facebook.
Tapi......Uwi menyimpan satu kebohongan.....
Yah mungkin kebohongan yang cukup fatal untuk mematahkan hati Rido....
Uwi meringis sedih..
Sudah hampir setengah tahun Uwi berkelana di dunia maya. Tapi bukan sebagai Uwi, melainkan sebagai Natasya. Yah Uwi memasang foto-foto Natasya di akun fbnya. Natasya, gadis yang amat cantik yang tak lain adalah sepupu Uwi. Gadis yang meninggal 3 tahun lalu karena OD. Uwi amat mengagumi Natasya. Menurut Uwi, cuma cowo buta yang gak akan tertarik dengan kecantikan Natasya.
Sejak kecil Uwi menjadikan Natasya trendsetter-nya. Baju yang dibeli Natasya dibeli juga oleh Uwi. Ketika Natasya memanjangkan rambutnya, Uwipun memanjangkan rambutnya. Tapi sayang, Natasya harus mengakhiri hidupnya karena obat terlarang. Itu satu hal yang baru diketahui Uwi kalau ternyata di balik penampilan kalemnya Natasya adalah pecandu berat. Tak ada yang tahu hal ini sampai Natasya meninggal.
Awalnya Uwi hanya iseng memasang foto-foto Natasya di fb. Hanya sebagai penghibur hatinya dengan mengganggap seolah-olah Natasya masih hidup. Tapi tak disangka ia berkenalan dengan Rido.
Oh God!! Rido harus tahu yang sebenarnya, bisik Uwi dalam hati.
“Ya....aq tak bisa membiarkan Rido jatuh cinta pada Natasya, sosok wanita yang sudah gak ada lagi di dunia ini. Aq harus jujur! Apapun resikonya”.
Mengurungkan niatnya tidur, Uwi kembali menyalakan laptopnya. Ternyata Rido masih online. Uwi menarik nafas panjang dan mulai mengetik pada jendela obrolan, “Rido...”
1 menit tak ada balasan....
Kemudian....bip....
”Ya Natasya, maaf td gw dr toilet....blm bo2k?”
”Belum.....aq mw ngmg sesuatu sm km bole?”
”Ya boleh tentunya. Mw ngmg apa?”
”mmmm.....km suka padaku?”
”Hhahhahahhaaa................................km lucu!!! Bukankah sebelumnya udah q blg kl aq sk bgt sm km. Ada yg salah???”
”Ya....aq cm nanya doank sich. Apa yg km sk dr aq?”
”apa ya.....hmmmmm km cantik”
Uwi terdiam. Yah dia tahu yang disukai Rido adalah Natasya, bukan dirinya.
”Gimana kl ternyata aq gx secantik yg km kira?”
”Gmn ya...pokoknya buat aq km tetap cantik. Emg ada apa sii?”
”gak ada apa2 kok....km ingin ktm aq?”
”tentu! Kpn?”
”Sekarang!”
”km serius??? Ini jam 12 malam Natasya”
”Pliiiisss..”

Lima menit Rido membisu sampai akhirnya dia menjawab ”Dmn?”
”Pemakaman”
”APA??? Km bercanda kan, Natasya??? Yg bnr aja......hahhaahah km gokil jg”
”aq serius”
”emmmmm....gk ada tempat yg lebih asik? Taman....atau hotel gt? Ckckckkck kidding”
”plisss”
”Ok ok.....qt ktm skrg”
”well....”

Tanpa pikir-pikir lagi Uwi langsung mengganti piyama yang dipakainya dengan baju terusan selutut warna putih yang amat disenanginya. Ia tak tahu mengapa ia amat sayang pada baju itu. Uwi menyetir dengan penuh gelisah. Ia kali ini benar-benar tak tenang.

Di pemakaman....
Sebuah mobil sedang hitam telah menunggu kedatangan Uwi. Uwi tak berani keluar dari mobilnya. Handphone-nya berdering. Rido memanggil....
”Hallo” kata Uwi dengan nada lemah.
”Natasya, km kah yg di dalam mobil merah di depanku?”
”Ya”
”boleh aq ke sana?”
”Y..yy ya”
”ok”

Huff....Uwi menghela nafas...
Terdengar suara pintu mobil dibuka dan langkah kaki mendekat ke arah Uwi. Kaca mobil Uwi diketuk perlahan. Uwipun membuka kaca mobilnya. Ia memejamkan mata, sama sekali tak berani membuka mata. Ya...Rido pasti sekarang sudah melihatnya. Oh Tuhan...apa yang harus aq katakan? Uwi masih terus memejamkan matanya, tak berani menoleh ke arah Rido.
Ah..
Suara mobil....pasti mobil Rido
Uwipun membuka mata
Mobil sedan hitam itu tak ada lagi di depannya
Ya...Rido langsung pergi dengan kecewa setelah melihat ternyata Uwi bukanlah Natasya seperti yang ia harapkan. Niat Uwi untuk membawa Rido ke makam Natasya-pun tak tercapai. Diputarnya mobilnya dan kembali ke rumah dengan putus asa.
“Uwi??? Dari mana km?” tanya mama Uwi heran
”Kuburan” jawab Uwi sambil lalu.
”APA??”
Tanpa mempedulikan mamanya, Uwi kembali ke kamarnya. Diliriknya laptopnya yang masih menyala sejak ditinggalkannya tadi begitu saja. Rido sudah offfline. Uwi benar-benar kalut. Ia tak bisa tidur. Tangannya memencat nomor Rido di handphonenya.
Tut.....tut...tut...nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area. Silakan coba beberapa saat lagi....
Astaga...sebegitu kecewanyakah Rido sampai mematikan handphonenya???

Esoknya.....
Sudah 3 jam Uwi di depan laptop menunggu Rido yang tak kunjung online. Padahal biasanya mereka sudah bercakap panjang lebar. Uwipun menulis di dinding Rido.

”Rido...aq w mgkn km bnr2 kcw sm aq..
Aq bnr2 mnt mf,,,aq ngerti np km bersikap gn k aq.....
Aq gk kan brhrap bnyk, aq cm mw minta mf
Sbnrnya Natasya sudah meninggal
Aq sepupunya......ya...hanya sepupunya yg tk secantik Natasya
Skali lg MAAF”


Sebulan telah berlalu tanpa sedikitpun kabar dari Rido. Handphone Rido gak aktif, begitupun di fb Rido tak pernah lagi online. Wallnya penuh dengan kiriman dari cewek-cewek yang menanyakan kenapa dia tidak online belakangan ini. Uwi tiba-tiba jadi merasa menyesal kenapa saat itu ia tidak membuka matanya. Setidaknya ia bisa melihat langsung wajah Rido. Uwi benar-benar merasa orang paling bodoh.
”Bodoh....bodoh! bodoh! Kalo gini caranya mending gw cabut dari dunia maya” kata Uwi memaki dirinya sendiri.
Sejak saat itu Uwi tak pernah lagi membuka akun fbnya. Kalaupun harus berurusan dengan internet, ia hanya membuka mbah google or yang berhubungan dengan tugas kuliahnya (yang jelas bukan facebook).


1 tahun kemudian......
Entah angin apa yang mendorongnya, Uwi tiba-tiba penasaran dengan isi akun fbnya sekarang. Dengan harap-harap cemas ia login ke akunnya.
”Hmmm.......cukup banyak notification selama aq tak ada”
Satu demi satu ia membaca komentar-komentar yang masuk ke statusnya.
Eh...apa ini???
Mata Uwi melotot pada serentetan kiriman wall di profilnya. Dari seorang cewe bernama Aya.

“apa? Gw br tw ya kl lo itu penipu”

“halloo..np gx dbls wall gw? Gx tw yah mw ngmg apa lg?”

“eh jawab donk!!! Lo ngerti gx seh kl Rido mencintaimu”

What??
Hati Uwi berdetak mendengar nama Rido disebut-sebut. Uwipun membuka profil Aya dan mencatat nomor handphone Aya yang tertera di profilnya.

Telepon diangkat pada deringan kedua…
”Hallo” terdengar suara cewe yang lembut.
”Aya?”
”ya.....maaf ini siapa?”
”Natasya...ah bukan....Uwi”
Cukup lama Aya terdiam sampai akhirnya berkata ”Oh.....ada apa ya?”
”aq cm ingin tanya apa maksudmu dengan bilang Rido sekarat?”
Aya menghela nafas, ”kita ketemu aja. Sekarang di cafe dekat kampus lo. Ok”
”ya”


Uwi tiba di cafe seberang kampusnya dengan rasa penasaran. Seorang cewe berambut coklat melambaikan tangan begitu Uwi masuk ke cafe. Uwipun duduk di hadapannya. Aya.....cewe yang cantik. Tak kalah cantik dengan Natasya.
”jadi...apa maksudnya? Km kenal Rido?” tanya Uwi.
Aya menatapnya tajam. “ah tak seharusnya kita bahas soal itu lagi”
”aq gak ngerti apa maksud kamu. Tolong jelaskan! Pliss”
“ok. Rido meninggal”
“APA???”
Uwi benar-benar kaget mendengarnya. Aya meneruskan ucapannya, ”mungkin sekitar 1 tahun yang lalu.” Uwi masih terdiam. ”ah tidak! Tepatnya satu dua tahun lalu”
”tak mungkin!” potong Uwi. ”aq mengenalnya 1 tahun lalu dan aq bertemu dengannya. Kamu bercanda!”
Aya menatap Uwi dalam. ”aq tak bercanda”
”tapi.....aq bertemu dengannya 1 tahun lalu. Ya berte....muuu”
”aq tau” jawab Aya datar.
”jadi maksudmu..”
”kau tak melihat wajah Rido saat itu kan? Bagaimana kau tau kalo yang menemuimu adalah Rido?”
Uwipun terdiam. Perlahan ia mencerna kata demi kata yang diucapkan Aya namun ia masih belum mengerti apa maksudnya.
”jadi............”
”yang menemuimu di pemakaman itu bukan Rido”
”jadi siapa?????” kata Uwi histeris.
”tak ada”
”aq masih belum mengerti. Kau sedang mempermainkan aq”
”ok aq jelaskan. Mobil hitam yang datang waktu itu adalah mobilku. Dan yang menelpon kamu itu pacarku. Kami hanya ingin bertemu orang yang dicintai Rido. Tapi ternyata kamu seorang penipu”
”lalu Rido...........”
”Rido gak pernah chatting dengan kamu. Kenapa?? Karena ia sudah meninggal sebelum ia sempat chatting dengan kamu”
”gak masuk akal!!!”
”Uwi.......km lupa pada Rido? Kamu lupa kamu sudah mengenanya sejak kecil?”
”Hah?”

Uwi semakin tak mengerti. Pikirannya berputar-putar pada masa lalunya. Ia mengenal Rido sejak kecil? Apa itu mungkin? Kenapa ia sama sekali tak ingat? Ada apa sebenarnya ini?



”Jangan rebut bonekaku!!!!”
Uwi merampas boneka beruangnya dengan kasar. Bocah berumur 5 tahun itu melotot pada sesosok bocah lain di hadapannya.
”Eh Uwi ...jangan kasar gitu sama Rido.” mama Uwi menarik anakya ke pelukannya.
”aduh jeng, beginilah anak-anak. Rido sini nak sama mama” kata wanita separuh baya.
Ia adalah mama Rido, sahabat mama Uwi dari kecil. Rido dan Uwi adalah tetangga sebelah rumah. Tapi keduanya tak pernah akur. Entah kenapa Uwi merasa Rido selalu ingin merebut mainan Uwi. Itu membuatnya kesal. Ia benar-benar benci dengan Rido.

Rido memeluk mamanya erat.
“Nak, kamu kok senang sekali dengan mainan Uwi? Itu kan mainan cewek, Rido. Nanti mama belikan kamu mainan robot-robotan yang bagus yah sayang”
”gak mau!!!” Rido merengek.
”kenapa gak mau? Oh kamu mau mainan pesawat-pesawatan yah?”
”Rido bukan mau mainannya, ma.”
“Lalu?”
“Rido gak suka Uwi sibuk dengan mainannya. Dia gak mau main sama Rido. Makanya Rido mau mengambil mainannya biar Uwi bisa main sama Rido”
“Lho kok gitu?”
“Pokoknya Rido maua main sama Uwi”
Rido terus merengek. Seperti ibu kebanyakan, mamanya hanya tersenyum dan menasehatinya untuk tidak bersikap demikian.
Hal itu terus berlangsung. Rido selalu mengganggu setiap Uwi memainkan mainannya. Suatu ketika Uwi merasa benar-benar kesal pada Rido. Iapun berniat mengerjai Rido.
“Rido, kamu mau mainanku?” tanya Uwi polos.
”iya”
”kejar aq!” bocah kecil itupun berlari sementara Rido mengejarnya. ”ahahahhah”
Entah sudah berapa jauh mereka berlari dari sekolah mereka.
Nafas Rido tersengal-sengal. Begitupun dengan Uwi. ”aduh Wi.....aq capek”
”sama. Yuk kita pulang”
”eh...?”
”ada apa?” tanya Uwi heran.
”ini dimana?”
Uwi melihat sekelilingnya. Ia tak mengenal tempatnya berada. Oh Tuhan..... mereka tersesat!
Uwipun menangis. ”Mamaaaaaaaaa................Uwi tersesat.....uwi mau pulang...hiks..hiks”
Rido menggenggam tangannya. ”Kita pasti pulang, Wi. Yuk kita cari jalan pulang”
Untuk pertama kalinya kedua bocah itu terlihat akur. Keduanya bergandengan tangan menyusuri jalan setapak di hadapan mereka.
”Do...Uwi takut”
”Jangan takut, Wi. Rido akan selalu melindungi Uwi”
”Janji ya?”
”Janji”
Rido mengulurkan jari kelingking seperti yang dilihatnya di TV, Uwi membalas dengan mengaitkan jarinya di jari Rido.
Tak lama kemudian polisi menemukan mereka dan membawa mereka pulang. Mama Uwi dan mama Rido benar-benar khawatir pada anak mereka. Sejak itu sikap Uwi jadi melemah ke Rido. Kalau Rido datang, Uwi langsung meninggalkan mainannya dan bermain bersama Rido. Mereka suka bermain di taman belakang rumah Uwi. Menanam bunga dan memanjat pohon. Hal itu terus berlangsung sampai mereka menginjak bangku SMP.

”Pacarmu datang!” kata Meli berbisik di telinga Uwi. Terlihat Rido memasuki kelas.
”Oh pliss dia bukan cowo gw! Kami sahabat” kata Uwi pada Meli.
”Yah sampai dimana persahabatan itu hingga lo gak kan tw perbedaannya”
”maksudnya?”
Rido menepuk pundak Uwi. Bergegas Meli meninggalkan mereka.
”ada apa dengan Meli?” tanya Rido heran.
”entahlah. Mungkin dia mengidap ayan” canda Uwi menanggapi sikap temannya yang usil itu. Keduanya tertawa.
”Wi, band favoritmu manggung malam ini” kata Rido antusias.
”Sungguh?”
”Ya. Dan aq punya tiketnya”
”Oh Rido...kau sangat baik”
”pergi berdua denganku?”
”tentu”
Wajah Rido bersinar. ”Yes! Sekalian ada yang mau ku sampaikan padamu”
”apa?” tanya Uwi penasaran.
”Nanti malam saja” jawab Rido sambil tersenyum dan kembali ke bangkunya. Bel pelajaranpun dimulai.

Malam itu...malam yang amat menyenangkan buat Uwi.
”Konser yang fantastis” kata Uwi senang ketika konser baru saja berakhir.
”Senang?” tanya Rido.
”Ya. Sangat! Eh ya apa yang mau kamu bilang padaku?”
”Ehm....” Rido menggengam setir mobilnya dengan keras. Mobil melaju dengan pelan. Tangan Rido tampak basah oleh keringat.
”Hei Rido....kamu gak menjawab pertanyaanku”
”Aku........” Rido melirik ke arah Uwi yang malam itu tampil anggun dengan baju terusan warna putih.
”Ya...kamu kenapa?”
”Aku....”

Braaaaaaaakkkkkk!!!!
Semua terjadi begitu cepat. Saat Rido hendak membelokkan mobilnya, semua terlambat. Kecelakaan itupun tak dapat dihindari. Mereka tabrakan. Sopir yang mabuk tanpa sengaja menabrak mobil yang ditumpangi Rido dan Uwi. Uwi cidera berat. Ia mengalami gegar otak yang serius dan mengalami kebutaan. Sementara Rido hanya cidera di bagian pelipisnya.


”Kecelakaan itu.....ya aq ingat!!!” kata Uwi histeris pada Aya. ”Tapi....aq tak ingat setelahnya”
”Kamu mengalami hilang ingatan yang cukup serius. Rido menyumbangkan matanya padamu sehingga kamu dapat melihat lagi” sambung Aya.
”Apa??”
Tanpa sadar air mata Uwi mengalir mengingat semuanya.
”Rido yang amat mencintaimu dari kecil tak ingin kau bersedih. Ia rela jadi buta asal kau bisa melihat dunia ini. Kemudian ia pergi jauh dari hidupmu. Dalam keadaan buta membawa cintanya padamu yang tak sempat diucapkannya. Ya.....dia mencintaimu dari dulu. Amat sangat mencintaimu. Bahkan setelah jauh darimu, ia masih terus bercerita tentangmu. Ia terus mengatakan cintanya padamu sampai aq benar-benar iri mendengarnya. Aq pernah bertanya padanya mengapa ia tak datang menemuimu. Lalu ia berkata ”ada banyak pria lain di luar sana yang akan menyayangi Uwi, bukan pria buta seperti aq”. Kau tau rasanya hatiku mendengar Rido mengatakannya? Sakit! Aq sebagai temannya mengerti perasaannya. Ia hanya ingin kau bahagia sementara dirinya tak bisa melihat dunia”

Air mata Uwi tak henti menetes di pipinya. Oh Tuhan.....apa saja yang telah ia lakukan selama ini sampai ia bisa melupakan Rido. Orang yang sangat berjasa karena telah memberikannya penglihatan. Orang yang terus mencintainya hingga akhir hayatnya.
”Lalu tentang fb itu...?” tanya Uwi dengan suara serak.
”Walau Rido jauh, ia selalu memantaumu. Mamamu selalu memberitahukan keadaanmu, apa yang kau lakukan hari ini, semua.... ya mungkin karena mamamu merasa berhutang budi pada Rido. Walau sebenarnya Rido merasa dialah penyebab kecelakaan itu. Dia selalu mengatakan harusnya ia tak mengajakmu keluar malam itu. Harusnya ia tak mengatakan isi hatinya saja. Mungkin kalian masih bersama sekarang.
Rido tahu tentang Natasya. Tapi ia tak sempat menghubungimu. Ia pernah mengirimmu sms. Tapi kau malah berkata ”Maaf ya Rido yang mana?”. Dari situ ia tahu ingatanmu belum pulih. Kamu sama sekali tak ingat padanya. Hatinya tambah sakit. Malamnya badannya panas sekali. Kami membawanya ke rumah sakit. Ia mengidap kanker paru-paru karena kebanyakan merokok. Sebelum meninggal, ia berpesan padaku untuk mengatakan padamu kalau ia selalu mencintaimu. Lalu aq pun mulai menyamar jadi Rido. Aq buat akun fb dengan fotonya, ku minta pacarku sering menelponmu. Yah pacarku juga sahabatnya Rido jadi ia mengerti keinginan Rido. Tapi selama chatting, ternyata kamu tetap tak mengingat Rido”.

Tangis Uwi benar-benar tak terkendali. Semua perasaan campur aduk. Uwi menjerit.....hatinya benar-benar sakit..........menyesal karena tak ada di samping Rido di saat Rido membutuhkannya... namun penyesalan tetap penyesalan...


Hheheee maaf yah kalo agak gk nyambung...dh lama gx nulis cerpen nich.....hehhehhe mohon kritik dan sarannya yang bersifat membangun.....makasih.....(chipoethz)
Pesan yang tersirat adalah : sesungguhnya terkadang kita melupakan orang yang telah berjasa dalam hidup kita...penyesalan memang selalu datang terlambat....(yaealah kl penyesalan di awal mah bukan penyesalan) hihiihih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar